Di tengah banjir iklan digital dan konten brand yang semakin seragam, audiens mulai mencari sesuatu yang lebih jujur, personal, dan terasa nyata. Inilah mengapa EGC atau Employee-Generated Content menjadi salah satu strategi yang diprediksi akan mendominasi tren pemasaran dan employer branding menuju 2026. EGC bukan sekadar konten tambahan, melainkan representasi sisi manusia dari sebuah perusahaan dan cerita autentik yang datang langsung dari orang-orang di balik layar brand tersebut.
Berbeda dengan konten korporat yang sering kali terkesan formal dan terkurasi berlebihan, EGC justru tampil apa adanya. Audiens melihat keseharian karyawan, cara mereka bekerja, bercanda, hingga berbagi insight profesional. Hal ini menciptakan koneksi Human-to-Human yang kini semakin dicari oleh generasi digital. Tidak hanya berdampak pada kepercayaan konsumen, EGC juga menjadi magnet kuat bagi talenta baru. Artikel The Daily Martech ini akan membahas secara lengkap apa itu EGC, mengapa relevan di 2025–2026, jenis kontennya, hingga strategi mendorong partisipasi karyawan secara berkelanjutan.
Definisi & Karakteristik EGC
EGC adalah singkatan dari Employee-Generated Content, yaitu segala bentuk konten, baik video, foto, maupun tulisan yang dibuat dan dibagikan secara sukarela oleh karyawan tentang pengalaman kerja mereka di sebuah perusahaan. Konten ini biasanya dipublikasikan melalui akun media sosial pribadi karyawan, bukan akun resmi brand.
Karakter utama EGC terletak pada sifatnya yang personal, jujur, dan tidak terlalu dipoles. Audiens tidak melihatnya sebagai “iklan”, melainkan sebagai cerita nyata dari orang yang benar-benar bekerja di dalam perusahaan tersebut. Inilah yang membuat EGC terasa lebih autentik dibanding konten brand konvensional.
Selain itu, EGC menampilkan sisi manusiawi brand seperti bagaimana budaya kerja, dinamika tim, hingga keseharian di kantor. Konten seperti ini membantu membangun kepercayaan karena pesan datang dari individu nyata, bukan dari institusi. Di era algoritma yang memprioritaskan akun personal, karakteristik ini menjadikan EGC sangat relevan dan powerful.
Perbedaan EGC vs UGC
Meskipun EGC masih satu keluarga dengan UGC (User-Generated Content), keduanya memiliki perbedaan mendasar pada sumber dan sudut pandangnya. UGC dibuat oleh konsumen atau pengguna produk berdasarkan pengalaman mereka sebagai pelanggan. Sementara itu, EGC dibuat oleh karyawan (orang dalam perusahaan) yang memahami proses, budaya, dan nilai brand dari sisi internal.
Keunggulan utama EGC terletak pada expert insight. Karyawan memiliki pengetahuan mendalam tentang produk, layanan, hingga cara kerja perusahaan yang tidak dimiliki oleh konsumen atau bahkan influencer eksternal. Konten yang mereka bagikan sering kali lebih kontekstual, informatif, dan kredibel.
Jika UGC kuat untuk membangun social proof dari sisi pengguna, maka EGC unggul dalam membangun trust dan kredibilitas brand dari dalam. Keduanya saling melengkapi, tetapi EGC memiliki peran unik dalam membangun persepsi jangka panjang, baik di mata konsumen maupun calon karyawan.
Mengapa EGC Tren di 2025?
Pada 2025, audiens semakin skeptis terhadap iklan tradisional dan konten promosi yang terlalu “jualan”. Berbagai studi menunjukkan bahwa sekitar 76% orang lebih mempercayai konten dari individu dibanding akun resmi brand. Hal ini membuat pendekatan Human-to-Human semakin relevan dalam strategi komunikasi.
EGC menjawab kebutuhan tersebut karena pesan disampaikan oleh manusia nyata, bukan logo perusahaan. Secara psikologis, audiens lebih mudah terhubung dengan cerita personal, ekspresi jujur, dan pengalaman sehari-hari karyawan.
Selain itu, algoritma media sosial saat ini cenderung memprioritaskan akun personal dibanding akun brand. Data dari TINT menunjukkan bahwa tingkat engagement pada konten karyawan bisa mencapai 8x lebih tinggi dibanding konten brand biasa. Kombinasi antara kepercayaan, performa algoritma, dan kebutuhan akan autentisitas inilah yang menjadikan EGC bukan sekadar tren sementara, tetapi strategi jangka panjang menuju 2026.
Jenis-Jenis Konten yang Viral
Agar EGC mampu menjangkau audiens luas, format kontennya perlu mengikuti pola yang sudah terbukti disukai algoritma dan manusia. Beberapa jenis konten berikut paling sering viral karena terasa autentik dan relatable:
Behind the Scenes (BTS)
Konten yang memperlihatkan proses di balik layar seperti meeting tim, proses produksi, atau momen kerja sehari-hari. BTS memberi kesan transparan dan membuat audiens merasa “ikut masuk” ke dalam perusahaan.
Day in My Life
Format video singkat yang menampilkan rutinitas kerja karyawan dari pagi hingga pulang. Konten ini sangat populer karena audiens penasaran dengan kehidupan profesional di balik sebuah brand.
Expert Tips dari Karyawan
Karyawan berbagi tips praktis sesuai keahliannya, misalnya tips desain, sales, marketing, atau teknis lainnya. Konten ini bernilai edukatif dan memperkuat positioning karyawan sebagai subject matter expert.
Office Tour & Workplace Culture
Menampilkan suasana kantor, fasilitas, hingga kebiasaan unik di tempat kerja. Konten ini efektif membangun persepsi budaya kerja yang positif dan inklusif.
Employee Story & Career Journey
Cerita personal tentang perjalanan karier karyawan, tantangan awal, hingga pencapaian mereka. Format storytelling seperti ini sangat kuat secara emosional dan meningkatkan trust audiens.
Baca Juga: 10 Jenis Konten Marketing, Jangkau Audiens Lebih Luas!
Manfaat Ganda: Marketing & Employer Branding
Salah satu kekuatan utama EGC adalah kemampuannya bekerja di dua sisi sekaligus: marketing dan employer branding. Dari sisi marketing, perusahaan mendapatkan konten autentik dengan biaya minim yang mampu meningkatkan brand awareness dan kepercayaan konsumen. Konten yang terasa jujur, personal, dan tidak dibuat-buat cenderung lebih mudah diterima serta dibagikan oleh audiens dibandingkan konten iklan konvensional.
Baca Juga: Reels vs Tiktok, Mana Yang Bagus Untuk Brand Awareness Anda?
1. Dampak Nyata bagi Strategi Marketing
Dalam konteks pemasaran, EGC berperan sebagai bentuk social proof yang kuat. Audiens lebih percaya pada cerita nyata yang datang dari karyawan dibanding klaim sepihak dari brand. Ketika karyawan membagikan pengalaman kerja, budaya perusahaan, atau proses di balik layar, brand tampil lebih transparan dan humanis. Selain itu, jangkauan organik EGC sering kali lebih luas karena dipublikasikan melalui akun personal yang dianggap lebih “aman” oleh algoritma media sosial. Hal ini membantu brand menekan biaya iklan sekaligus meningkatkan engagement rate secara konsisten.
2. Peran Strategis dalam Employer Branding
Dari sisi HR, EGC berfungsi sebagai “brosur rekrutmen hidup”. Calon kandidat tidak hanya membaca deskripsi pekerjaan, tetapi juga melihat langsung bagaimana rasanya bekerja di perusahaan tersebut melalui sudut pandang karyawan. Ini menciptakan persepsi yang lebih realistis mengenai budaya kerja, ritme tim, hingga nilai-nilai perusahaan. Dampaknya, talenta yang tertarik melamar biasanya sudah memiliki kecocokan secara budaya (cultural fit), sehingga risiko turnover di awal masa kerja dapat ditekan.
3. Efisiensi Rekrutmen & Kolaborasi Lintas Divisi
Hasil akhirnya, proses rekrutmen menjadi lebih efisien dan berkualitas. Kandidat yang masuk sudah tersaring secara alami karena mereka datang dengan ekspektasi yang lebih matang. Di sisi internal, EGC juga mendorong kolaborasi antara tim marketing, HR, dan communication, karena semua divisi memiliki kepentingan yang sama terhadap citra brand. Inilah alasan mengapa EGC kini tidak lagi dianggap sekadar tren konten, melainkan investasi strategis jangka panjang lintas divisi yang berdampak langsung pada pertumbuhan bisnis dan reputasi perusahaan.
Tantangan & Cara Mendorong Partisipasi
Meskipun potensinya besar, implementasi EGC tidak selalu berjalan mulus. Ada beberapa tantangan umum yang sering dihadapi perusahaan, sekaligus solusi strategisnya:
Rasa Takut Salah Bicara
Banyak karyawan khawatir ucapannya berdampak negatif pada brand. Solusinya adalah menyediakan guidelines ringan yang menjelaskan topik aman dan nilai brand secara umum.
Kurangnya Kepercayaan Diri di Depan Kamera
Tidak semua karyawan terbiasa membuat konten. Perusahaan dapat membantu dengan pelatihan singkat, template ide konten, atau contoh video referensi yang mudah ditiru.
Konsistensi Konten yang Rendah
EGC sering berhenti di tengah jalan. Untuk mengatasinya, buat program sederhana seperti jadwal bulanan atau challenge konten internal agar partisipasi lebih berkelanjutan.
Minimnya Motivasi
Dorong partisipasi dengan apresiasi non-finansial seperti Creator of the Month, shoutout di kanal internal, atau repost di akun resmi brand.
Kurangnya Fasilitas Pendukung
Menyediakan alat sederhana seperti ring light, tripod, atau mikrofon dapat meningkatkan kualitas konten dan rasa percaya diri karyawan tanpa biaya besar.
Baca Juga: 10 Aplikasi Edit Video TikTok, Bikin Konten dengan Mudah!
Kesimpulan
EGC adalah strategi konten berbasis karyawan yang semakin relevan di era digital yang menuntut kejujuran dan koneksi manusiawi. Dengan karakter autentik, tingkat kepercayaan tinggi, dan performa algoritma yang kuat, Employee-Generated Content menjadi kunci tren menuju 2026.
Bukan hanya memperkuat marketing, EGC juga berperan besar dalam employer branding dan rekrutmen talenta. Dengan panduan yang tepat dan dukungan yang cukup, perusahaan dapat mengubah karyawan menjadi brand advocate paling kredibel tanpa kehilangan sisi personal yang justru menjadi kekuatan utama EGC.
Pantau terus The Daily Martech ya untuk info terbaru tentang format konten yang bisa membantu strategi marketing Anda!
